ILUSTRASI
JAKARTA — Kemajuan ekonomi Indonesia
cukup diakui di kancah internasional. Ironisnya, kemajuan ekonomi itu
masih bertumpu pada sumber daya alam, belum bersumber pada inovasi.
Wakil
Presiden Boediono saat peringatan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia
Ke-12, Selasa (8/5/2012), di Kantor Wakil Presiden, menegaskan bahwa
Indonesia adalah anggota penuh forum terhormat G-20, kelompok negara
yang sangat memengaruhi ekonomi dunia dari ratusan negara. Ini tentu
membanggakan.
”Namun, yang memprihatinkan, kita berada di
peringkat ke-20 dalam forum G-20. Ini berarti sumber kemajuan ekonomi
kita belum bertumpu pada inovasi,” kata Boediono.
Wapres Boediono
memerinci, jumlah paten internasional yang didaftarkan Indonesia hingga
2009 hanya enam buah. Jauh di bawah Amerika Serikat di peringkat
pertama, disusul Jepang, yang jumlah patennya mencapai puluhan ribu.
Dalam hal pendaftaran logo industri (
trademark), Indonesia juga
tertinggal jauh, hanya 15 buah. China memiliki 84.000 logo, Thailand
386 logo, Malaysia 513 logo, dan Filipina 54 logo.
Sumber
kemajuan ekonomi Indonesia, menurut Boediono, masih bertumpu pada
kekayaan sumber daya alam. Padahal, sumber kekayaan alam ini bisa
menjadi ”kutukan” jika terus dieksploitasi, tanpa ada inovasi yang
mengandalkan kemampuan sumber daya manusia. ”Dalam ’teori kutukan sumber
daya alam’, mereka yang dikaruniai sumber daya alam melimpah justru
menjadi bangsa yang tidak maju-maju kalau tidak hati-hati mengelolanya.
Sumber daya alam yang melimpah cenderung membuat manusia agak santai dan
malas karena tinggal diambil dan dijual,” katanya.
Menurut dia,
Indonesia sudah saatnya mampu mentransformasikan sumber daya alam itu
menjadi kemampuan inovasi dan kreativitas sumber daya manusia. Wapres
mencontohkan Norwegia yang memiliki kekayaan alam melimpah, tetapi tetap
rasional dalam pemanfaatannya. Mereka menyisihkan sebagian kekayaan
alamnya untuk pembangunan pada masa depan.
Produk mineral diatur
Sinyalemen
Wapres Boediono, pertumbuhan ekonomi RI lebih didorong karena
eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya inovasi, terlihat dari data
ekspor Badan Pusat Statistik (BPS) Senin lalu. Ekspor bahan bakar
mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet,
bijih, kerak dan abu logam, serta tembaga mendominasi 10 besar produk
ekspor Indonesia.
Laporan BPS menyebutkan, total nilai ekspor
sepanjang triwulan I-2012 mencapai 48,5 miliar dollar AS, naik 6,93
persen daripada nilai ekspor pada triwulan I-2011 sebesar 45,38 miliar
dollar AS. Dari total ekspor ini, nilai ekspor nonmigas triwulan I-2012
mencapai Rp 38,5 miliar dollar AS, naik 3,87 persen daripada ekspor
nonmigas pada triwulan I-2011 sebesar 37,09 miliar dollar AS. Ekspor
nonmigas ini, antara lain, karena ekspor bahan mentah, termasuk hasil
mineral.
Dari struktur nilai ekspor triwulan I-2012, nilai ekspor
produk industri mencapai 60 persen dari total nilai ekspor. Namun,
nilai ini turun daripada triwulan I-2011 sebesar 62,48 persen. Sementara
itu, ekspor produk tambang mencapai 16,82 persen, naik dibandingkan
dengan triwulan I-2011 sebesar 16,46 persen.
Sejumlah program
disiapkan pemerintah untuk menata sumber daya alam itu, terutama
mineral. Salah satunya adalah peraturan Menteri Keuangan yang mengatur
besaran bea keluar atas 14 jenis komoditas mineral. Peraturan itu
diterbitkan pada Mei ini.
Ke-14 komoditas mineral tersebut adalah
nikel, tembaga, emas, perak, timah, timbal, kromium, molibdenum,
platinum, bauksit, bijih besi, pasir besi, mangan, dan antimonium.
Pemerintah
juga mendorong peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan
pengolahan dan pemurnian. Langkah ini untuk meningkatkan nilai tambah di
dalam negeri. Dampaknya adalah peningkatan nilai ekspor Indonesia.